Santaibanget.com – Jam Gadang, Bukittinggi Padang menyimpan fakta menarik yang perlu anda ketahui. Ikon Bukittinggi ini sudah sangat popular ditengah masyarakat. Jam gadang ini merupakan sebuah menara jam yang dibangun di pusat kota.Bukittinggi.

Jam Gadang sejak berdiri sudah menjadi jantung kota. Mulai pagi hingga sore hari, puncak Jam Gadang akan menampilkan kemegahan bangunan dengan background langit megah. Sedang di malam hari, nuansa romantis dan eksotis akan mempesona pengunjung.

Karena ukurannya yang sangat besar, dalam bahasa daerah Minagkabau masyarakat menamakannya Jam Gadang, yang artinya jam besar. Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Kata ‘Gadang’ sendiri diambil dari bahasa Minangkabau yang memiliki arti ‘besar’. Sehingga Jam Gadang adalah menara tinggi besar dengan wujud atap seperti rumah khas Minang.

Berikut Fakta Menarik dari Jam Gadang Bukittinggi, Padang

Naik Bendi Mengelilingi Jam Gadang

Seperti halnya Delman, yang merupakan transportasi khas Jakarta, di kota Bukittinggi juga terdapat transportasi kereta kuda khas daerah yang bernama Bendi. Kendaraan ini banyak berjajar di sekitar pelataran Jam Gadang atau jalan menurun arah Panorama Ngarai Sianok.

Kita dapat menggunakan kendaraan ini dengan tarif sekitar Rp20.000 sampai Rp50.000 untuk berkeliling pelataran Jam Gadang, atau melihat wisata lain disekitarnya, seperti Lubang Jepang, benteng Fort de Kock, Panorama Ngarai Sianok, hingga Rumah Kelahiran Proklamator Hatta.

Tak cukup sampai di situ, beberapa bulan yang lalu pemerintah setempat juga secara rutin mengadakan pertunjukkan tari dan kesenian khas Minang yang diadakan setiap Sabtu malam. Sehingga lengkap sudah keramaian sekitar Jam Gadang sebagai ikon kebanggaan kota Bukittinggi.

Tanpa Rangka Besi dan Semen

Menara jam tersebut seluas alas 13×4 meter dan tinggi 26 meter dibangun tanpa rangka besi dan semen. Pembangunan jam ini menggunakan campuran putih telur, pasir putih dan kapur begitlah kehebatan dair teknik pembangunan zaman dulu.

Sekali Ganti Bandul Jam

Bandul Jam Sempat Patah pada Tahun 2007, saat Indonesia mengalami bencana gempa
bumi yang mengguncang Sumatera Barat cukup hebat. Gempa yang berkekuatan 5,8
hingga 6,4 skala richter ini bahkan getarannya terasa hingga negara Singapura
dan Malaysia. Menjadikan bandul penggerak jam putus, lalu pemerintah menggantinya ke versi yang lebih baru.

Hadiah Pemberian Ratu Belanda

Tahun 1926 Jam Gadang mulai dibangun dan merupakan salah satu bentuk hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota zaman pendudukan Belanda. Pada saat itu, Yazin dan Sutan Gigi Ameh merupakan orang asli Indonesia yang menjadi arsitek dari bangunan tersebut. Sampai saat ini hadiah yang diberikan Ratu Belanda tersebut masih berdiri megah di Bukittinggi.

Mirip Big Ben London

Jam Gadang memiliki kemiripan dengan bangunan jam yang ada di London, yakni Big Ben. Namun bukan hanya itu saja, melainkan mesin penggerak Jam Gadang dengan Big Ben sama karena dibuat oleh orang yang sama. Brixlion merupakan sebutan untuk mesin penggerak manual yang dibuat oleh seorang bangsawan ternama pada saat itu, yakni Forman.